Oleh: ro3d7 | Januari 15, 2010

Di atas Langit ada Langit

Dalam berbagai tafsiran, langit itu ada tujuh… setidaknya ummat muslim meyakini demikian, tapi sebenarnya tidak ada yang tahu dimana batas awal dari langit, tidak yang bisa melihat bahkan dari perspektif manapun. Ini menggambarkan betapa tidak berharganya (-sangat kecil-red) manusia dibandingkan dengan langit.

Saking kecilnya manusia sehingga sangat sedikit ilmu yang dimiliki, dicontohkan dalam suatu kisah, seperti capung yang hingga di atas air laut yang sedemikian besar. Dalam teori modern, istilah “long life education” yang bila kita artikan barangkali “jangan terlalu sombong dengan ilmu yang kita miliki sehingga kita beraninya berhenti belajar”. Nah tentu sangat miris sekali, bila kita kaitkan dengan program wajib belajar negara kita yang hanya baru bisa sampai dengan 9 (sembilan) tahun yang kemudian ini pun masih belum merata.

Pesan dalam Undang-undang Dasar’45 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ditambah dengan pasal 31 UUD yang menugaskan negara untuk membawa pesan “belajar dari mulai ling lahd sampai liang lahat” bagi warganya hanyalah baru sepersekian setelah 55 tahun indonesia merdeka (kebayang nga tuh betapa tertinggalnya kita). Lha bila kita bagi prosentasenya dengan usia manusia pada umumnya berarti 9/60, itupun dimulai sejak usia 7 tahun, apa tuh artinya, pasti sangat kecil prosentase belajar kita.

Nah, pesannya salah satu tokoh barat, perlu kita renungkan, yaitu jangan engkau tanyakan apa yang nagara berikan padamu tapi tanyakan apa yang bisa engkau berikan pada negaramu. Tentu bila kita hanya bergantung pada janji-janji atau lebih tepatnya (kata sebagian orang intelek), amanat undang-undang dasar, lebih enak bila kita berpikir terbalik sepeti motto diatas. Di atas Langit ada Langit, sadarlah, banyak ilmu yang masih harus kita temukan, mungkin dalam satu langit pun tidak akan sempurna kita temukan, dan bayangkan bila kita masih menunggu program negara, yang hanya baru bisa memprogramkan wajib belajar 9 tahun. Inget loh cuma sembilan tahun, maka betapa bodohnya kita.

Diatas langit ada Langit, yang menyebabkan kita sangat kecil, mustinya memberikan inspirasi pada untuk haus ilmu, lapar akan wawasan, sehingga kita akan terus menjadi “santri”nya alam semesta dan tentu hambanya yang senantiasa bersyukur dan “wow” akan selalu keluar dari mulut kita karena menemukan hal-hal yang luar biasa yang kadang-kadang berada diluar batas kemampuan kita.

Di atas langit ada langit, pebelajar belajar sepanjang hayat.

Sengaja saya menuliskan Teknologi Informasi dan Komunikasi secara utuh dan saya tutup dengan tanda kurung TIK, kenapa? hal ini dilakukan untuk memberikan kejelasan bahwa yang mau kita bahas adalah mata pelajaran TIK dengan kepanjangan Teknologi Informasi dan Komunikasi bukan lainnya.  Menurut kabar berita kepanjangan kata TIK sudah banyak yang memelintirkan, ada yang berpendapat TIK = Ilmu Komputer (jauh banget ya..), ada juga yang mengatakan TIK = Teknologi Informatika (lah singkatan dari mana ini).

Nah sebenernya hakikat TIK sendiri apa sih  ? Any Comment ?

(locke sampai disini dulu)

Oleh: ro3d7 | November 20, 2009

Islamic Calendar

Oleh: ro3d7 | September 16, 2009

Mohon Maaf Lahir Batin ya…

Idul Fitri

Idul Fitri

A clear implication which has emerged so far is that a curriculum for adult education cannot be founded on disciplines. Any curriculum must appropriately reflect the location of the field of study in the practical and the critical and if we will concentrate on the implications for curriculum design and teaching, leaving the questions of research for later. In curricular terms therefore, we would suggest that the starting point is not practice per se but practice problems. These need to be articulated ,so that the frameworks of practice can be surfaced and analyzed and the effect of discursive and structural constrains assessed, in effect, the process is one of examining the way in which practice is framed and constrained, this has been characterized as renormalizing practice since it result in practice no longer being seen as normal or reutilized practice as we have seen can be routine, habitual, unproductive, the demoralizing of practice is therefore the beginning of a critical, self questioning approach to practice the beginnings of the dialogue with and about practice which can lead to an appreciation of alternative possibilities but which always starts with and maintains a focus on particular practice problem.

Adult education curricula which use experiential approaches do this but then take things no further. Surfacing and questioning the frame works of informal theory is an essential first step, but the frame works themselves may be so constraining that they do not suggest the possibility of better options.

We have also seen that we cannot apply formal theory to informal theory but it could probably help in perceiving the terrain of the letter more clearly. To understand clearly what we mean here we need to backtrack to a point made earlier. That formal theory as product is generated thought a practice informed by formal theory as frame work. The end to which the practice is directed in case of formal theory is the generation of conceptual representations of an abstract kind that are designed to reflect and model the world. Although the practice of generating formal theory as product is an activity, it is not it self the activity of the practitioner it is, in effect one step removed from it, and the kinds of choices and decisions that are made reflect this. They are concerned with understanding, interpretations and appropriation. Therefore can the representation and explanation of formal theory help? formal theory (in the sense that it is outside the immediate world of everyday practice)can help by facilitating the re-presentation of a practice problem, not thought direct application but as a source of metaphors and sensitizing concept with which to view in different way and to reformulate the problem. The curricular problem therefore is to surface the extent of this influence and examine its contribution, if any to practi9ce problems.

From a teaching point of view, dealing with formal theory as product is difficult, since it is part of the taken for granted.

Formal theory as codified knowledge has a certain status and academic legitimacy consequently practitioners when they become students tend to be overawed and reluctant to question it. At the same time, they feel that its concerns are not directly theirs, even thought they cannot fully articulate their reasons for this, we have noted this problem earlier and saw that it origination but the same site of application in practice.

Given the relationship of formal theory as product or formal theory as framework it is more productive to start with the latter, when practitioners as students examine the underlying framework they can see, for example, how theories of learning take the particular form they do and how they are as much a construct a therefore amenable to problem aviation as their own informal theory in a sense one can see this as a process of putting formal theory as frame work. Thus contextualized, it can be seen as explaining he world in particular way and from a particular stand-point and being more or less helpful in so doing ultimately, therefore a pragmatic test.

If adult education as a field of study is to be located in the practical, then the primary curriculum aim must be the enhancements and improvement of practice rather than the accumulation of formal knowledge such a curriculum should enable practitioners to develop a reflective awareness of practice and facilitate their engagement in praxis. The approach we are suggesting has a number of advantages by focusing on practice and practice problem and by recognizing the existence of informal theory, the curriculum can thereby be made relevant ,rigor can be preserved there are also a number of wider implications which need stressing. The first is that the distraction between theorists and practitioners needs to be softened. Theorists and teachers who in adult education tend to be one and the same need to be both more aware and more knowledgeable about practice in the field, another implications is that adult education in adopting the practical needs to re-conceptualize its notion of theory and thus its epistemology generally theory is not confined solely to the knowledge contained in discipline, the knowledge contained in practice has to be recognized.

The title of this book is” Adult Education as Theory, Practice and Research”

The captive Triangle

By Robin Usher and Ian Bryant (1989)

Educational Technology on Basic Education

Banyak Tantangan yang dihadapi bangsa ini, salah satunya tantangan untuk mengimplemetasikan amanat Undang – Undang Dasar 1945 Pasal 31 bahwa Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran dan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang, yang diperjelas dengan UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 yaitu Setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar, dipertegas oleh PP No. 47 tahun 2008 bahwa Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah daerah. Terselenggaranya proses pendidikan ini tidak boleh lepas dari tiga (3 ) pilar penting Pendidikan sebagai standar sehingga kualitas pendidikan indonesia lebih baik dari masa ke masa. Untuk ini diperlukan kekuatan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian. Kita dilatih untuk melakukan ini dalam banyak mata kuliah kita, sehingga dalam penerapannya bisa kita gunakan dalam menganalisis Akses, Mutu dan Tata Kelola Pendidikan baik dalam level makro maupun mikro..

NGO – Non Goverment Organization.

Banyak upaya pemerintah dalam memenuhi amanat Undang-undang dalam pengentasan Wajib Belajar, salah satunya melalui kerjasama dengan berbagai Lembaga Swadaya baik dalam maupun luar negeri yang menyediakan peluang bagi kita untuk bisa berkontribusi di dalamnya, menjadi bagian yang mengetengahkan solusi dalam potret dunia pendidikan bangsa Indonesia (penulis saat ini tergabung dalam program Decentralized Basic Education (DBE)). Ketika terjun dalam dunia profesional, semuanya ilmu kita akan semakin terasah, dimulai dari bahan dasar yang telah kita pelajari di bangku kuliah. Misalnya ketika kita menerapkan teori A (Audience) B (Behaviour) C (Condition) D (Degree) dalam setiap kegiatan pelatihan baik tingkat makro misalnya Dinas Pendidikan maupun mikro misalnya sekolah sehingga pelatihan bisa efektif dan efisien, sedangkan dalam bidang media yang terasakan sampai saat ini lebih dalam sisi komunikasi, seperti yang maswell katakan communication is who syas what to whom in what channel with what effect, intinya bagaimana pesan, dalam hal ini hasil yang telah kita capai bisa terkomunikasikan secara tepat kepada masyarakat sehingga tidak terjadi misscommunication. Dunia Kampus, dunia teknologi pendidikan, sadar atau tidak sadar mengarahkan bahkan membentuk kita untuk siap dalam semua medan, apalagi bila diperkuat dengan keaktifan kita dalam berorganisasi. Jangan meremehkan matakuliah manapun, karena didalamnya terdapat adonan yang akan kita perlukan dan gunakan dimasa mendatang. Jangan ragu untuk mengasah dan mendalami semuanya.

Say “Hello with smile”

Semua kemampuan yang dimiliki, we can say “oustanding knowledge” yang telah kita pelajari walaupun ada yang mendalam, ada yang ditengah atau bahkan hanya dipermukaan saja tidak akan bisa terlihat bila tersembunyi di pasaran. “ Tong kurung batokeun” kata istilah sunda, silaturahmi lah, perintah agama islam, bangun networking maka mutiara itu akan terlihat dengan jelas. Jangan takut apalagi merendahkan diri, rizki anda menunggu untuk dijemput, maka jemputlah dengan kekuatan yang tersimpan luarbiasa dalam diri Anda. So says hello to the world with your deep smile… Goodluck.

Jakarta, Rabu (15 April 2009) — Sebanyak 10.297.816 siswa akan mengikuti Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) dan Ujian Nasional (UN) 2008/2009. Jumlah peserta UASBN SD/MI/SDLB sebanyak 4.514.024 siswa, sedangkan peserta UN SMP/MTs/SMPLB sebanyak 3.575.987 siswa. Adapun peserta UN SMA/MA/SMK sebanyak 2.207.805 siswa. Kelulusan ditargetkan mencapai 92 persen.

Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (Ka BSNP) Mungin Eddy Wibowo saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media Depdiknas, Jakarta, Rabu (15/04/2009) .

Eddy menyampaikan, UASBN SD/MI/SDLB akan dilaksanakan pada 11 – 13 Mei 2009, sedangkan UN SMP/MTs/SMPLB akan dilaksanakan pada 27 – 30 April 2009. Adapun UN SMA akan digelar selama lima hari pada 20 – 24 April 2009. Sementara UN SMK/SMALB akan berlangsung selama tiga hari pada 20 – 22 April 2009.

“Mata pelajaran yang diujikan dalam UN adalah kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan akan diujikan di sekolah yang akan dilakukan oleh guru,” katanya.

Terkait persiapan penyelenggaraan UN dan UASBN, Eddy menyampaikan, pencetakan soal ujian telah dilakukan sejak 19 Maret 2009. Kemudian, kata dia, distribusi soal diharapkan tiga hari sebelum pelaksanaan ujian telah sampai di tingkat kabupaten/kota atau di rayon. “Sudah ada provinsi yang melakukan pendistribusian yaitu pada daerah – daerah yang jangkauannya jauh,” katanya.

Eddy menyebutkan, penyelenggaraan ujian akan melibatkan sebanyak 1.030.000 pengawas. Setiap pengawas, kata dia, akan mengawasi sepuluh peserta didik. Penyelenggaraan ujian, lanjut dia, juga akan melibatkan tim pemantau independen dan pengawas satuan pendidikan dari unsur perguruan tinggi, widya iswara, dan asosiasi profesi non-PGRI sebanyak 55.265 orang. “Pengawasan dan pemantauan dilakukan pada ujian SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB/ SMK,” katanya.

Eddy menyebutkan, biaya penyelenggaraan UASBN sebanyak Rp.59.523.075.000,00, sedangkan biaya UN SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB/ SMK sebanyak Rp.296.099.583.000,00. Kemudian, kata dia, biaya untuk pengawasan termasuk scanning sebanyak Rp.83 milyar.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas Burhanuddin Tolla mengatakan, paket soal UN dibuat berdasarkan pada standar kompetensi lulusan (SKL) lalu dikemas menjadi kisi – kisi soal. “Agar menjaga kebocoran soal maka dibuat paralel soal. Setiap provinsi bervariasi soalnya. Soal di DKI Jakarta berbeda dengan soal di Jawa Barat berbeda dengan soal di Aceh. Namun, kemungkinan ada yang sama sekitar lima sampai dengan sepuluh persen,” katanya.

Mungin menambahkan, khusus untuk soal UASBN, penyelenggara tingkat pusat menyiapkan 25 persen butir soal, sedangkan penyelenggara tingkat provinsi menyiapkan 75 persen butir soal dan merakit master naskah soal. Adapun kriteria kelulusan UN Tahun 2008/2009 mengalami kenaikan nilai rata – rata 0,25 dibandingkan tahun 2007/2008, yaitu dari 5,25 menjadi 5,50.

Mungin menyampaikan, penyelenggaraan ujian juga akan diselenggarakan bagi sekolah Indonesia di luar negeri diantaranya di Belanda, Rusia, Mesir, Saudi Arabia, Pakistan, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Syria dan Filiphina.***


Sumber: Pers Depdiknas

Oleh: ro3d7 | April 17, 2009

bersyukur…

How grateful are you ?… Sebuah pertanyaan sederhana yang membuat hati kita terenyuh, dan menghentikan pikiran kita untuk tafakkur…

Bersyukur adalah satu energi positif yang dimiliki oleh setiap insan sebagai “fuel” yang akan membuat kita terbang melejit mendekati karunia-Nya. Hidup akan terasa ringan, dipenuhi oleh sangkaan positif, dijejali oleh bayangan keindahan hidup. Dengan syukur, kita kan terbentuk emnjadi orang yang ikhlas, pasrah dan pantang menyerah.

Semakin kita bersemangat untuk menaklukan dunia dalam bingkai karunia-Nya, didorong sifat baik sangka, dan merasakan bahwa semua nikmat yang diberikan Alloh tidak bisa terhitung dan sudah melampaui batas rasio manusia. Apapun kehendak-Nya dia akan senantias ingat bahwa dia hanyalah makhluk kecil yang diberi pinjaman nyawa, harta, kekayaan yang sewaktu-waktu pasti akan diambil oleh yang punya.

Bersyukurlah… rasakan dengan seksama semua Karunia-Nya dan melayanglah dalam bingkai positif, inspiratif dibalut kerendahan hati dan keikhlasan yang luarbiasa.

Oleh: ro3d7 | Februari 11, 2009

Suka aza desain.. :-D

Nampang desain ya… :-D

evluasi-edit2-copyalhadits-edit-copy

Ada pepatah yang dulu sering saya dengar, “buku gudangna elmu, maca koncina”. Kalau kita simpulkan dari sudut kependidikan, berarti di setiap sekolah/madrasah harus menyediakan perpustakaan. Karena disanalah buku tertumpuk dengan rapi. Lah.. bagaimana kita bisa membaca kalau bukunya ndak ada, kalau tempatnya juga ngak ada.

Hadirnya permen no. 25 tahun 2008 menjadi salah bukti nyata pemerintah serius mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai amanat dari undang-undang yang juga telah ditetapkan dalam Standar Minimal Pelayanan Pendidikan. Hal ini harus disikapi oleh semua sekolah/madrasah yang belum memiliki perpustakaan untuk memasukkan perpustakaan pada Rencana Kerja Sekolahnya masing-masing. Sekali lagi menjadi wajib..!!

Tentu saja, perpustakaan tanpa pustakawan bagai kapal tanpa pilot, pasti tanpa arah. Maka ini menjadi program paket, adanya perpustakaan membutuhkan seorang pustakawan. Maka dibutuhkan pustakawan yang bisa mewujudkan amanat undang-undang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menjadikan buku sebagai satu sumber  yang dicintai oleh anak sehingga buku menjadi ilmu karena dibaca yang diwadahi oleh peran perpustakaan dikarenakan nahkoda kapal (putakawan) yang profesional.

Bravo Perpustakaan dan Pustkawan Indonesia

Tulisan Sebelumnya »

Kategori