Oleh: ro3d7 | Januari 16, 2012

Peraturan BOS 2012

Beikut adalah link untuk tiga peraturan yang berkaitan dengan Biaya Operasional Sekolah (BOS) 2012 yang telah menghabiskan dana negara sebesar 23,594.8 Trilyun dengan peningkatan kuota anggaran per siswa per tahun sebesar 580.000 untuk SD dan 710.000 untuk SMP atau naik sekitar 70% untuk level SD dan 80% untuk level SMP, yaitu :
1. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang menjelaskan tentang mekanisme penyaluran dana BOS dari kas umum negara ke kas umum daerah (provinsi) silakan donwload di http://bos.kemdiknas.go.id/home/berita/31
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri yang mengatur tentang mekanisme pengelolaan dana BOS di daerah dan mekanisme penyaluran dana BOS dari kas daerah ke sekolah. silakan donwload di http://bos.kemdiknas.go.id/home/berita/32
3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengatur mekanisme pengalokasian dan penggunaan dana BOS di sekolah. http://bos.kemdiknas.go.id/home/berita/30
Secara umum, format pengadministrasian kembali pada pedoman BOS tahun 2009 dengan sedikit “modifikasi”, khususnya di level satuan pendidikan misalnya K2 yang asalnya realisasi dana per jenis anggaran dipindah menjadi K-7 dan diganti dengan rincian K-1 (RKAS) dengan judul RKAS yang bersumber dari dana BOS, dan project DBE, khususnya DBE 1 telah membantu sekolah untuk mempermudah pengadministrasian BOS baik di level sekolah, maupun di level daerah.

Oleh: ro3d7 | Juli 6, 2010

BINA INSAN MULIA[1]

Ada Tiga (3) unsur kata yang tersusun dalam judul di atas, yaitu BINA, kemudian INSAN, dan MULIA[2]. Bila kita bahas secara filosofis akang sangat panjang, namun sesungguhnya penulis berharap judul ini bisa merepresentasikan kegalaun batin dalam menyikapi peristiwa dunia di akhir zaman ini. Kami berharap program ini bisa menjadi salah satu solusi menghadapi serangan-serangan brutal syaitonir-rojim[3] yang semakin merajalela.

Ide dasar program ini, berawal ketika si imut, si soleh, si pinter Muhammad Sabyl el-Azizy, kemudian menyusul adiknya Muhammad Hikam Al-khawarzmy lahir ke dunia yang fana ini. Senang bercampur cemas, senang karena Alloh masih memberikan kesempatan bagi hambaNya untuk beramal, menyimpan tabungan-tabungan kesalehan pada kedua putra kami. Cemas, apakah kami akan tetap istiqomah, akankah, anak-anak kami mampu menghadapi tantangan zaman yang kian menghadang. Di atas kerendahan hati di hadapan sang pencipta alam, Diawali dengan silaturahim kami dengan teman-teman soleh[4], guru-guru yang santun, dan termenung, melakukan kajian secara pribadi dan bersama, yang akhirnya kami sepakat, harus ada sesuatu yang dilakukan untuk menghadapi tantangan zaman, melawan serang-serangan brutal syaitonir-rojiim, dengan izin Alloh SWT, tercetuslah program BINA INSAN MULIA.

Program ini, merupakan bagian dari niat dan keinginan untuk menciptakan generasi yang bisa menjawab bahkan menjadi solusi di era sekarang, dan yang akan dating. Kami, bersama-sama memetakan program ini dalam 3 cakupan, yaitu :

  1. Membentuk Generasi Cinta Alquran
  2. Membentuk Generasi Ilmiah Mulia.
  3. Membentuk Muzakki[5] produktif.

Untuk yang pertama, Membentuk Generasi Cinta Al-quran…

Kami meyakini bahwa, solusi mujarab bagi semua penyakit yang ada di dunia ini, adalah alquran. Dewasa ini bisa kita hitung dengan jari, anak-anak muda yang sehari-harinya bergelut dengan alquran, atau bahasa sederhananya yang tiap magrib, ngaji bersama-sama di surau-surau sehingga setiap surau, terdengar tawa canda anak-anak di sela-sela ngajinya.

Generasi Cinta Alquran ini, menurut rumus yang menciptakan dunia ini, akan menjadi penyelamat, pemelihara dunia ini, karena generasi pecinta alquran akan membawa sinar terang akhlak mulia alquran yang menjadi penyejuk di tengah rasa haus yang melanda hamper separuh bumi.

Program yang sedang dan insya alloh akan kami usung adalah Program Training bahasa Arab dan tahfidz Alquran Juz 30.

Untuk yang kedua, Membentuk Generasi Ilmiah Mulia…

Generasi mendatang, tidak boleh hanya diidentikkan dengan sarung dan kitab kuning yang sudah kumal, tapi juga dibutuhkan seorang pribadi yang edukatif dan ilmiah. Potensi-potensi kreativitas dan produktifitasnya menjadi solusi dalam menyelesaikan permasalahan ummat dewasa ini yang di dasari cahaya quran sehingga muncul generasi-generasi Ilmiah mulia.

Program yang tengah di usung adalah Program Pesantren Bimbingan belajar yang insya alloh akan menjadi gerbang yang mengantarkan pemuda-pemudi islam menuju cita, harapan sesuai potensi.

Untuk yang ketiga, Membentuk Muzakki produktif…

Anfus wal-amwal (diri dan harta), adalah dua hal yang tidak bisa terpisah. Adanya mustahiq[6] adalah gambaran keadilan islam, sehingga antara yang punya bisa berbagi dengan yang papa. Program Membentuk Muzakki produktif ini berikhtiar membentuk pemuda-pemudi islam muzakki yang siap menjadi kaum yang menolong yang papa dan tangannya senantiasa berada di atas untuk membantu saudara-saudara-saudaranya yang lain.

Program yang tengah di usung adalah Program Pesantren Peningkatan Ekonomi Ummat (P2EU), muzakki mulia.

PENDANAAN PROGRAM

Awal mulanya, pendanaan untuk kegiatan di atas, sangat sederhana. Bermula dari kumpulan infak beberapa orang, keluarga yang telah terbiasa berinfak rutinan, kemudian infak ini di kumpulkan untuk membiayai  program.

Seiring banyaknya masukan dan ide yang berkembang dengan harapan bisa membantu ummat/masyarakat secara lebih luas, maka program Bina Insan Mulia, mulai mengajak sahabat-sahabat, keluarga-keluarga yang merasa belum secara optimal menyalurkan infaq bulanannya, yang kemudian program pengumpulan dana ini kami beri nama Infak Ummat Produktif.

PENUTUP

Akhirnya, kami hanya bisa berencana, berikhtiar optimal dan menyerahkan semuanya kepada Alloh SWT, dengan harapan semua aktivitas ini menjadi langkah yang diridloi Alloh SWT, dan tabungan kita bersama di akhirat, sehingga setidaknya kita bisa berkata “ Kami telah berusaha dan berikhtiar Ya Alloh”.

Menuju Sekolah Bina Insan Mulia 2025[7]

Program Manager,

Rudi Sopiana[8]


[1] Ditulis oleh Rudi Sopiana Ependi

[2] Silakan di perkaya dengan membaca QS 4 : 9; 59 : 17-18

[3] Syaitan yang terkutuk. Syaitan dalam bahasan ini lebih spesifik adalah syaitan dari jenis manusia. Syaitan adalah karakter ingkar kepada Alloh SWT.

[4] Istriku tercinta, anak-anaku, angga, anwar, ilen, hendi, tedi, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu

[5] Muzakki : orang yang wajib memberikan zakat

[6] Mustahiq : Orang yang berhak menerima zakat

[7] Visi kami adalah mendirikan sekolah sebagai lembaga pembinaan untuk ummat, dari ummat untuk kemaslahatan bangsa, Negara dan dunia ini

[8] Saat ini bekerja sebagai konsultan pendidikan, Fasilitator Manajemen dan Governance, spesifik dalam Manajemen Sarana prasarana Sekolah dan perawatannya, Fasilitator Rencana Kerja Sekolah integrasi Sistem database Sekolah dan Pengadministrasian Biaya Operasional Sekolah.

Dengan latar belakang , Pengelolaan Sarana dan Prasarana (Sarpras) pendidikan di tingkat sekolah belum tertangani secara baik , Hasil Penilaian BPK dengan Predikat WDP (Wajar Dengan Pengecualian) sebesar 350 Milyar hanya untuk SKPD Dinas Pendidikan , Kebutuhan pengelolaan sarpras pendidikan di sekolah sesuai dengan Permendagri 17 tahun 2007, Pemenuhan standar sarpras sesuai dengan Permendiknas No. 24 tahun 2007 dan Memahami pentingnya pemeliharaan dan perawatan sarpras sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang bersama dengan DBE 1 melakukan kerja sama Manajemen Sarana Prasarana Sekolah dengan tahapan Resosialisasi dengan Dinas Pendidikan, TOT Manajemen Aset tingkat kabupaten selama 2 hari, Training Manajemen Aset tingkat sekolah selama 2 hari, Pendampingan sekolah sejumlah 3 kali, Training Manajemen Aset kabupaten (agregasi aset sekolah di level kecamatan dan kabupaten) (2 hari), Pendampingan kabupaten (2 hari) dilanjutkan dengan diseminasi di 3 kecamatan dengan jumlah 98 sd/MI, kemduian agreragasi level kecamatan dan kabupaten untuk sekolah-sekolah diseminasi yang kemudian di akhiri oleh Workshop dengan stakeholder Kabupaten (1 hari) pada tanggal 23 juni 2010.

Kegiatan Workshop Multistakeholder manajemen sarana parasarana ini mencoba menyampaikan hasil pelatihan sarana prasana baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat sekolah kepada pemangku kebijakan dari berbagai unsure. Niat baik ini disambut dengan hadirnya Bupati yang mewakilkan pada Sekretaris Daerah. Melalui sambutan yang di bacakan sekda, beliau mengatakan bahwa inventarisir asset daerah menjadi salah satu program prioritas di kabupaten karawang, diantaranya belum tertibnya penataan dan administrasi sarana prasana di sekolah-sekolah, sehingga banyak aser tetap yang berada di sekolah belum terekam laporannya yang menyumbangkan label WDP dalam pemeriksaaan BPK th 2007. Bupati pun berharap, manajemen asset ini bisa selaras dengan BPKP perwakilan jawa barat serta menghasilkan berbagai hal yang bermanfaat baik bagi para stakeholder sendiri maupun bagi upaya peningkatan manajemen asset di seluruh wilayah kabupaten karawang.

Dalam kesempatan ini pun, kepala Dinas yang mewakilkan pada sekretaris dinas, dalam pengantarnya mengharapkan program ini dapat diseminasikan pada 27 kecamatan lainnya dengan meminta Bappeda untuk menganggarkan pada tahun anggaran 2011, karena selain dinas terbantu dengan inventarisi yang cepat melalui SIMA juga secara cepat dapat mengetahui total dari setiap asset yang dimiliki yang kemudian bisa dirinci sampai pada tingkat sekolah.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi yang merupakan hasil dari tahapan pelatihan permendagri no 17 th 2007 dan permendiknas 24 th 2007, yang disampaikan oleh Koordinator pengurus barang level kabupaten yang dibantu oleh kepala UPTD Karawang Timur.

Unsur lain yang hadir dan memberikan apresiasi positif adalah kepala bappeda, Ketua Komisi D DPRD, Ketua Dewan Pendidikan, Humas PEMDA Karawang, Kabid Dikdas, Perwakilan dari Kasi Sarpras, Kasi Kelembagaan, Unsur Press dari Karawang TV, kepala UPTD, Para pengurus barang level kecamatan. dan para kepala sekolah dari 30 kecamatan (karawang timur, talagasari dan rengasdengklok).

Kepala Bappeda mengapresiasi dan berharap kegiatan ini bisa diselaraskan dengan kegiatan SIMDA Daerah, sehingga SIMA yang dikembangkan DBE 1 bisa menjadi jembatan untuk menginventarisir asset pemerintah daerah yang ada disekolah. Tidak jauh berbeda dengan Kepala bappeda, Pa Nanda Suhanda selaku ketua Komisi D DPRD, mengungkapkan hal yang sama, malah beliau berharap bahwa data-data Asset daerah yang telah di inventarisir melalui SIMA bisa di tembuskan kepada Komisi D DPRD Kab. Karawang.

Pada kesempatan ini pun, kepala sekolah, secara langsung menceritakan temuan-temuan mereka, terutama masalah lahan yang kepemilikannya masih belum jelas, secara langsung kepada Ketua Komisi D DPRD, dan akan ditembuskan pada Komisi A.

Dari kegiatan workshop ini, Salah satu kesimpulan para peserta setelah pemaparan materi berlangsung adalah terbentuknya ide, gagasan,  pandangan yang sama mengenai kebermanfaatan program manajemen sarana parasana sekolah yang kemudian berharap bisa ditularkan pada sekolah-sekolah lainnya di kabupaten karawang.

Oleh: ro3d7 | Januari 15, 2010

Di atas Langit ada Langit

Dalam berbagai tafsiran, langit itu ada tujuh… setidaknya ummat muslim meyakini demikian, tapi sebenarnya tidak ada yang tahu dimana batas awal dari langit, tidak yang bisa melihat bahkan dari perspektif manapun. Ini menggambarkan betapa tidak berharganya (-sangat kecil-red) manusia dibandingkan dengan langit.

Saking kecilnya manusia sehingga sangat sedikit ilmu yang dimiliki, dicontohkan dalam suatu kisah, seperti capung yang hingga di atas air laut yang sedemikian besar. Dalam teori modern, istilah “long life education” yang bila kita artikan barangkali “jangan terlalu sombong dengan ilmu yang kita miliki sehingga kita beraninya berhenti belajar”. Nah tentu sangat miris sekali, bila kita kaitkan dengan program wajib belajar negara kita yang hanya baru bisa sampai dengan 9 (sembilan) tahun yang kemudian ini pun masih belum merata.

Pesan dalam Undang-undang Dasar’45 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ditambah dengan pasal 31 UUD yang menugaskan negara untuk membawa pesan “belajar dari mulai ling lahd sampai liang lahat” bagi warganya hanyalah baru sepersekian setelah 55 tahun indonesia merdeka (kebayang nga tuh betapa tertinggalnya kita). Lha bila kita bagi prosentasenya dengan usia manusia pada umumnya berarti 9/60, itupun dimulai sejak usia 7 tahun, apa tuh artinya, pasti sangat kecil prosentase belajar kita.

Nah, pesannya salah satu tokoh barat, perlu kita renungkan, yaitu jangan engkau tanyakan apa yang nagara berikan padamu tapi tanyakan apa yang bisa engkau berikan pada negaramu. Tentu bila kita hanya bergantung pada janji-janji atau lebih tepatnya (kata sebagian orang intelek), amanat undang-undang dasar, lebih enak bila kita berpikir terbalik sepeti motto diatas. Di atas Langit ada Langit, sadarlah, banyak ilmu yang masih harus kita temukan, mungkin dalam satu langit pun tidak akan sempurna kita temukan, dan bayangkan bila kita masih menunggu program negara, yang hanya baru bisa memprogramkan wajib belajar 9 tahun. Inget loh cuma sembilan tahun, maka betapa bodohnya kita.

Diatas langit ada Langit, yang menyebabkan kita sangat kecil, mustinya memberikan inspirasi pada untuk haus ilmu, lapar akan wawasan, sehingga kita akan terus menjadi “santri”nya alam semesta dan tentu hambanya yang senantiasa bersyukur dan “wow” akan selalu keluar dari mulut kita karena menemukan hal-hal yang luar biasa yang kadang-kadang berada diluar batas kemampuan kita.

Di atas langit ada langit, pebelajar belajar sepanjang hayat.

Sengaja saya menuliskan Teknologi Informasi dan Komunikasi secara utuh dan saya tutup dengan tanda kurung TIK, kenapa? hal ini dilakukan untuk memberikan kejelasan bahwa yang mau kita bahas adalah mata pelajaran TIK dengan kepanjangan Teknologi Informasi dan Komunikasi bukan lainnya.  Menurut kabar berita kepanjangan kata TIK sudah banyak yang memelintirkan, ada yang berpendapat TIK = Ilmu Komputer (jauh banget ya..), ada juga yang mengatakan TIK = Teknologi Informatika (lah singkatan dari mana ini).

Nah sebenernya hakikat TIK sendiri apa sih  ? Any Comment ?

(locke sampai disini dulu)

Oleh: ro3d7 | November 20, 2009

Islamic Calendar

Oleh: ro3d7 | September 16, 2009

Mohon Maaf Lahir Batin ya…

Idul Fitri

Idul Fitri

A clear implication which has emerged so far is that a curriculum for adult education cannot be founded on disciplines. Any curriculum must appropriately reflect the location of the field of study in the practical and the critical and if we will concentrate on the implications for curriculum design and teaching, leaving the questions of research for later. In curricular terms therefore, we would suggest that the starting point is not practice per se but practice problems. These need to be articulated ,so that the frameworks of practice can be surfaced and analyzed and the effect of discursive and structural constrains assessed, in effect, the process is one of examining the way in which practice is framed and constrained, this has been characterized as renormalizing practice since it result in practice no longer being seen as normal or reutilized practice as we have seen can be routine, habitual, unproductive, the demoralizing of practice is therefore the beginning of a critical, self questioning approach to practice the beginnings of the dialogue with and about practice which can lead to an appreciation of alternative possibilities but which always starts with and maintains a focus on particular practice problem.

Adult education curricula which use experiential approaches do this but then take things no further. Surfacing and questioning the frame works of informal theory is an essential first step, but the frame works themselves may be so constraining that they do not suggest the possibility of better options.

We have also seen that we cannot apply formal theory to informal theory but it could probably help in perceiving the terrain of the letter more clearly. To understand clearly what we mean here we need to backtrack to a point made earlier. That formal theory as product is generated thought a practice informed by formal theory as frame work. The end to which the practice is directed in case of formal theory is the generation of conceptual representations of an abstract kind that are designed to reflect and model the world. Although the practice of generating formal theory as product is an activity, it is not it self the activity of the practitioner it is, in effect one step removed from it, and the kinds of choices and decisions that are made reflect this. They are concerned with understanding, interpretations and appropriation. Therefore can the representation and explanation of formal theory help? formal theory (in the sense that it is outside the immediate world of everyday practice)can help by facilitating the re-presentation of a practice problem, not thought direct application but as a source of metaphors and sensitizing concept with which to view in different way and to reformulate the problem. The curricular problem therefore is to surface the extent of this influence and examine its contribution, if any to practi9ce problems.

From a teaching point of view, dealing with formal theory as product is difficult, since it is part of the taken for granted.

Formal theory as codified knowledge has a certain status and academic legitimacy consequently practitioners when they become students tend to be overawed and reluctant to question it. At the same time, they feel that its concerns are not directly theirs, even thought they cannot fully articulate their reasons for this, we have noted this problem earlier and saw that it origination but the same site of application in practice.

Given the relationship of formal theory as product or formal theory as framework it is more productive to start with the latter, when practitioners as students examine the underlying framework they can see, for example, how theories of learning take the particular form they do and how they are as much a construct a therefore amenable to problem aviation as their own informal theory in a sense one can see this as a process of putting formal theory as frame work. Thus contextualized, it can be seen as explaining he world in particular way and from a particular stand-point and being more or less helpful in so doing ultimately, therefore a pragmatic test.

If adult education as a field of study is to be located in the practical, then the primary curriculum aim must be the enhancements and improvement of practice rather than the accumulation of formal knowledge such a curriculum should enable practitioners to develop a reflective awareness of practice and facilitate their engagement in praxis. The approach we are suggesting has a number of advantages by focusing on practice and practice problem and by recognizing the existence of informal theory, the curriculum can thereby be made relevant ,rigor can be preserved there are also a number of wider implications which need stressing. The first is that the distraction between theorists and practitioners needs to be softened. Theorists and teachers who in adult education tend to be one and the same need to be both more aware and more knowledgeable about practice in the field, another implications is that adult education in adopting the practical needs to re-conceptualize its notion of theory and thus its epistemology generally theory is not confined solely to the knowledge contained in discipline, the knowledge contained in practice has to be recognized.

The title of this book is” Adult Education as Theory, Practice and Research”

The captive Triangle

By Robin Usher and Ian Bryant (1989)

Educational Technology on Basic Education

Banyak Tantangan yang dihadapi bangsa ini, salah satunya tantangan untuk mengimplemetasikan amanat Undang – Undang Dasar 1945 Pasal 31 bahwa Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran dan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang, yang diperjelas dengan UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 yaitu Setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar, dipertegas oleh PP No. 47 tahun 2008 bahwa Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah daerah. Terselenggaranya proses pendidikan ini tidak boleh lepas dari tiga (3 ) pilar penting Pendidikan sebagai standar sehingga kualitas pendidikan indonesia lebih baik dari masa ke masa. Untuk ini diperlukan kekuatan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian. Kita dilatih untuk melakukan ini dalam banyak mata kuliah kita, sehingga dalam penerapannya bisa kita gunakan dalam menganalisis Akses, Mutu dan Tata Kelola Pendidikan baik dalam level makro maupun mikro..

NGO – Non Goverment Organization.

Banyak upaya pemerintah dalam memenuhi amanat Undang-undang dalam pengentasan Wajib Belajar, salah satunya melalui kerjasama dengan berbagai Lembaga Swadaya baik dalam maupun luar negeri yang menyediakan peluang bagi kita untuk bisa berkontribusi di dalamnya, menjadi bagian yang mengetengahkan solusi dalam potret dunia pendidikan bangsa Indonesia (penulis saat ini tergabung dalam program Decentralized Basic Education (DBE)). Ketika terjun dalam dunia profesional, semuanya ilmu kita akan semakin terasah, dimulai dari bahan dasar yang telah kita pelajari di bangku kuliah. Misalnya ketika kita menerapkan teori A (Audience) B (Behaviour) C (Condition) D (Degree) dalam setiap kegiatan pelatihan baik tingkat makro misalnya Dinas Pendidikan maupun mikro misalnya sekolah sehingga pelatihan bisa efektif dan efisien, sedangkan dalam bidang media yang terasakan sampai saat ini lebih dalam sisi komunikasi, seperti yang maswell katakan communication is who syas what to whom in what channel with what effect, intinya bagaimana pesan, dalam hal ini hasil yang telah kita capai bisa terkomunikasikan secara tepat kepada masyarakat sehingga tidak terjadi misscommunication. Dunia Kampus, dunia teknologi pendidikan, sadar atau tidak sadar mengarahkan bahkan membentuk kita untuk siap dalam semua medan, apalagi bila diperkuat dengan keaktifan kita dalam berorganisasi. Jangan meremehkan matakuliah manapun, karena didalamnya terdapat adonan yang akan kita perlukan dan gunakan dimasa mendatang. Jangan ragu untuk mengasah dan mendalami semuanya.

Say “Hello with smile”

Semua kemampuan yang dimiliki, we can say “oustanding knowledge” yang telah kita pelajari walaupun ada yang mendalam, ada yang ditengah atau bahkan hanya dipermukaan saja tidak akan bisa terlihat bila tersembunyi di pasaran. “ Tong kurung batokeun” kata istilah sunda, silaturahmi lah, perintah agama islam, bangun networking maka mutiara itu akan terlihat dengan jelas. Jangan takut apalagi merendahkan diri, rizki anda menunggu untuk dijemput, maka jemputlah dengan kekuatan yang tersimpan luarbiasa dalam diri Anda. So says hello to the world with your deep smile… Goodluck.

Jakarta, Rabu (15 April 2009) — Sebanyak 10.297.816 siswa akan mengikuti Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) dan Ujian Nasional (UN) 2008/2009. Jumlah peserta UASBN SD/MI/SDLB sebanyak 4.514.024 siswa, sedangkan peserta UN SMP/MTs/SMPLB sebanyak 3.575.987 siswa. Adapun peserta UN SMA/MA/SMK sebanyak 2.207.805 siswa. Kelulusan ditargetkan mencapai 92 persen.

Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (Ka BSNP) Mungin Eddy Wibowo saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media Depdiknas, Jakarta, Rabu (15/04/2009) .

Eddy menyampaikan, UASBN SD/MI/SDLB akan dilaksanakan pada 11 – 13 Mei 2009, sedangkan UN SMP/MTs/SMPLB akan dilaksanakan pada 27 – 30 April 2009. Adapun UN SMA akan digelar selama lima hari pada 20 – 24 April 2009. Sementara UN SMK/SMALB akan berlangsung selama tiga hari pada 20 – 22 April 2009.

“Mata pelajaran yang diujikan dalam UN adalah kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan akan diujikan di sekolah yang akan dilakukan oleh guru,” katanya.

Terkait persiapan penyelenggaraan UN dan UASBN, Eddy menyampaikan, pencetakan soal ujian telah dilakukan sejak 19 Maret 2009. Kemudian, kata dia, distribusi soal diharapkan tiga hari sebelum pelaksanaan ujian telah sampai di tingkat kabupaten/kota atau di rayon. “Sudah ada provinsi yang melakukan pendistribusian yaitu pada daerah – daerah yang jangkauannya jauh,” katanya.

Eddy menyebutkan, penyelenggaraan ujian akan melibatkan sebanyak 1.030.000 pengawas. Setiap pengawas, kata dia, akan mengawasi sepuluh peserta didik. Penyelenggaraan ujian, lanjut dia, juga akan melibatkan tim pemantau independen dan pengawas satuan pendidikan dari unsur perguruan tinggi, widya iswara, dan asosiasi profesi non-PGRI sebanyak 55.265 orang. “Pengawasan dan pemantauan dilakukan pada ujian SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB/ SMK,” katanya.

Eddy menyebutkan, biaya penyelenggaraan UASBN sebanyak Rp.59.523.075.000,00, sedangkan biaya UN SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB/ SMK sebanyak Rp.296.099.583.000,00. Kemudian, kata dia, biaya untuk pengawasan termasuk scanning sebanyak Rp.83 milyar.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas Burhanuddin Tolla mengatakan, paket soal UN dibuat berdasarkan pada standar kompetensi lulusan (SKL) lalu dikemas menjadi kisi – kisi soal. “Agar menjaga kebocoran soal maka dibuat paralel soal. Setiap provinsi bervariasi soalnya. Soal di DKI Jakarta berbeda dengan soal di Jawa Barat berbeda dengan soal di Aceh. Namun, kemungkinan ada yang sama sekitar lima sampai dengan sepuluh persen,” katanya.

Mungin menambahkan, khusus untuk soal UASBN, penyelenggara tingkat pusat menyiapkan 25 persen butir soal, sedangkan penyelenggara tingkat provinsi menyiapkan 75 persen butir soal dan merakit master naskah soal. Adapun kriteria kelulusan UN Tahun 2008/2009 mengalami kenaikan nilai rata – rata 0,25 dibandingkan tahun 2007/2008, yaitu dari 5,25 menjadi 5,50.

Mungin menyampaikan, penyelenggaraan ujian juga akan diselenggarakan bagi sekolah Indonesia di luar negeri diantaranya di Belanda, Rusia, Mesir, Saudi Arabia, Pakistan, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Syria dan Filiphina.***


Sumber: Pers Depdiknas

Older Posts »

Kategori