Oleh: ro3d7 | Februari 14, 2008

The Eternity Formulas (Rumus Keabadian)

The Eternity Formulas (Rumus Keabadian)

Kemarin saya melemparkan satu wacana bahwa sakinah mawaddah warohmah (samara-selanjutnya disebut “samara”) ini merupakan obat mujarab menciptakan keluarga yang tak luntur oleh masa.

Sakinah Mawaddah Warohmah… (Binatang apakah yang satu ini…lanjutan dari tulisan menikah..sakral dan suci).

Sakinah…

Kalau kita kaji dari sisi bahasa, sakana-yaskunu-sakinah, isim makan yang artinya “tempat ketenangan”. Bila sekilas kita lihat, kemudian kita hubungkan dengan makna nikah, maka menikah akan membentuk dan membawa kita menuju tempat ketenangan. Wah luar biasa ya, karena sebenarnya dasar tujuan dari setiap manusia adalah tenang (bener khan..!!).

Benarkah nikah itu bisa membawa pada tempat tenang alias sakinah. Banyak keluarga yang bahkan setelah menikah boleh dibilang “awet rajet”, mendekati neraka dunia, tersiksa… Jadi bagaimana kita bisa membuktikan bahwa keluarga, pernikahan itu kunci ketenangan.

Apakah tenang identik dengan tidak ada pertengkaran ? Diem.. alami.. uuh.. ngak berwarna banget!! Rosul pun pernah marah, bertengkar juga, lalu apa essensi dari sakinah itu…

Dalam agama kita, langkah untuk menuju ketenangan adalah dengan DZIKRULLAH. “Alaa bidzikrillahitatmainnul qulub” artinya dengan bahwa dengan berdzikirlah bisa memberikan ketenangan dalam hati. Jadi Rumusnya Nikah=Tenang=Inget

Nikah=Tenang=Inget…

Kita sudah tahu, bahkan boleh dibilang ngak asing, kalo dibilang inget itu identik dengan inget pada Allah, dalam berbagai versi (sholat, dzikir) bahkan dalam setiap aspek kehidupan, tapi itulah kunci semuanya, sehingga kita menemukan satu essensi penting bahwa melakukan setiap aktivitas dalam menikah itu IBADAH, including sexual activity.

Nah, tapi kan kita ngak sekaku itu, inget kita hidup di dunia, kita punya istri, anak, mertua, saudara, INGET mereka juga akan membawa pada ketenangan, akan membawa kita pada aspek tanggung jawab sebagai seorang suami, istri, anak yang punya peran danfungsi masing-masing (tentang hak dan kwajiban kita bahasa dalam episode mendatang J), yang kita sadari sebagai IBADAH, bahkan marahnya suami pada istri, istri pada suami, anak dan semua komponen keluarga adalah bagian dari IBADAH.

Jadi Rumus pertama, kita yang harus kita lakukan adalah INGET supaya TENANG

Kita pun tidak mungkin menapikan factor-faktor duniawi, kita akan tenang, bila unsur-unsur alamiah kita terpenuhi, dari mulai sandang, pangan, papan, pendidikan (suami, istri, anak,keluarga) terpenuhi. Hal ini memerlukan kecerdikan, kecerdasan dan keterampilan memanage banyak hal, termasuk ikhtiar mencari rizki kemudian mengelolanya menjadi asset (untuk mendalami ini silakan beli buku-buku yang relevan). Saya hanya ingin menyampaikan bahwa islam memandang segala sesuatu secara komprehensif.

Mawaddah…

Cinta, deritanya tiada akhir… (saya denger komentar itu di beberapa film). Benarkan cinta sedahsyat itu.. Sehebat itukah kekuatan cinta. “Bagiku cukup cinta kamu, materi belakangan” Gombal banget ya..!!

Cinta.. Sejauh apakah kita mengenalnya…

Banyak sekali muda-mudi yang berhubungan bahkan sampai melampaui batas, banyak yang rela sampai kesuciannya direnggut kekasihnya, atas nama cinta. Dengan cinta, banyak anak yang melawan orangtua, aktivitasnya dijamin benar atas nama cinta. Cinta memiliki sayap yang demikian sehingga menerbangkan ruh setiap insan pada langit asmara yang tidak seorang pun tahu dimana titiknya. Bagai sayur tanpa garam, hidup tanpa cinta tidak memiliki warna, kekeringan dan bahkan bagai zombie.

Cinta itu Fitrah..

Fitrah itu sebut saja kebutuhan dasar setiap manusia seperti makan, minum, tidur, apabila tidak dilakukan maka kita akan tersiksa. Nah lho.. cinta juga kebutuhan batin, kebutuhan jiwa, jadi bila cinta itu tak kunjung datang pasti batin dan jiwa kita akan terasa kering. Hampa, kehampaaan jiwa hanya akan dirasakan bahkan lama kelamaan akan menyiksa (tapi yang sudah terlanjur menikah tanpa rasa cinta, jangan takut nanti lama-kelamaan insya alloh akan muncul sendiri J)

Cinta itu menurut saya bukan hanya cinta secara duniawi saja (terlalu sempit pemikiran kita… kalo pendapatnya begitu). Sebelum dibentuknya sebuah keluarga, dua unsure yang terlibat (minimal) yaitu suami dan istri harus memiliki dasar-dasar cinta atas dasar iman, yaitu cinta pada Alloh, Rosululloh, kitabulloh dan jihad di jalanNya (bila belum … selamat berjuang bersama J).

Maka dalam keluarga kita akan terbentuklah program-program yang membawa kita pada satu kecintaan yang hakiki, yang tidak mungkin luput oleh masa. Contoh sederhana, barangkali kita akan berlatih sholat berjamaah tepat waktu bersama istri anak, kalo bias orangtua dan mertua kita, lebih jauhnya sesekali kita akan melakukan sholat-sholat malam, bahkan bermuhasabah bareng, mungkin juga shoum bareng… cukup susah, tapi pantas dicoba. Nah hal-hal di atas ini yang membawa kita pada satu kecintaan dan memebrikan kesadaran bahwa kita berkeluarga bukan hanya atas kehendak diri, tapi Zat yang MahaTahulah yang telah mengaturNya, sehingga saya yakin, bila itu yang telah tertanam, hamper dikatakan 0% akan terjadi pertengkaran, kecekcokan, karena semuanya dikembalikan pada Zat yang mahaMemiliki urusan.

Kecintaan pada Rosul pun menjadi hal yang penting, keluarga akan berjalan sesuai rel yang ditentukan, ada dinamika seperti rosul kita jalankan (silakan pelajari sunnah dari berbagai referensi). Baiti jannati, itlah jargon rosul, intinya bila kita mecintai dan berusaha hidup ala rosul, insya alloh jargon itu bukan hanya dongeng tapi akan menjadi sebuah kenyataan.

Semua penyakit membutuhkan obat, nah obat dari semua sumber obat tiada lain hanyalah alquran. Alquran layaknya satu-satunya cahaya dalam kegelapan dunia saat ini, bacalah, artikan, terjemahkan (ya sekarang kan banyak terjemahan J )kemudian fahami sehingga alquran bias menjadi sumber solusi dari semua masalah kita, dia “ayat-ayat cinta” sesungguhnya.

Cerita di atas ini akan terwujud bila suami dan istri (minimal) telah memiliki kefahaman yang sama (sama ilmu, sama pengetahuan, sama-sama beramal), bila belum selamat berjuang…!!

Warohmah…

Sudah tenang, cinta pasti muncul warohmah (rasa kasih sayang), betapa tidak dua factor dibawah telah menjadi syarat terbentuknya warohmah…

Saya sendiri masih belum menemukan bentuk dari warohmah ini, untuk sessi warohmah saya teruskan lain waktu…

Ditulis hari kamis sampai adzan subuh berkumandang, mohon koreksinya “wallohu’alam

Salam hangat Rudi sopiana

rudisopiana@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: