Oleh: ro3d7 | Mei 9, 2008

For A Better Education

For A Better Education [mendidik vs mengajar vs mengejar]

Pendidikan adalah mendidik, tidak boleh dipersempit maknanya menjadi mengajar. Saya masih ingat sekali, jaman saya SD, seorang guru memilikisatu sinar tersendiri yang sangat disegani oleh murid, orangtua bahkan masyarakat umumnya. Kenapa itu bisa terjadi, karena mereka MENDIDIK, bukan mengajar.

Dulu, seingat saya, menajdi guru itu murni diniatkan ikhlas, pengabdian, tanpa mngeharapkan balasan apapun, tapi rizkinya selalu ada dan mengalir, semuanya dilakukan dengan keikhlasan. Nah barangkali inilah yang membuat bangsa kita menjadi bangsa yang disegani sebagai macannya ASIA [itu fakta lho –red]. Guru pun menjadi panutan dan tetap menjadi guru bahkan setelah bel sekolah berbunyi, semuanya bertanya pada pak guru, bermacam hal, dari mulai hal kecil, sampe hal yang rumit tentang kehidupan bermasyarakat. Terima kasih guru-guru [nu di gugu ditiru] ku.

Hari ini kebanyakan [tidak semuanya mungkin –red] hanya ada dua tipe guru, yaitu mengajar dan mengejar. Nah yang mengajar, mereka hanya melakukan transfer ilmu, puas ketika anak-anak yang beliau ajar, disebut pintar mengerjakan soal, bukannya cerdas mengelola soal kehidupan, lulus Ujian Nasional tapi gagal dalam Ujian Hidupnya. Mengajar sesuai beban jam yang dimiliki, sesudah itu, predikat guru ditanggalkan dan tinggal seorang manusia yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan tidak memiliki rasa tanggung jawab mendidik masyarakatnya.

Ada lagi mengejar, yang satu ini banyak kejarannya, mengejar kurikulum supaya sampe semuanya, ngak peduli siswa ngerti apa ngak, mengejar jam di sekolah lain, mengejar les, bimbel, mengejar… mengejar… Mereka hanya berdiri dihadapan siswanya padahal hatinya sedang memikirkan pekerjaan lain, mengejar setoran kreditan bulanannya mungkin. Guru seperti ini bahkan menjadi rendah dimata siswa, bahkan di mata masyarakat. Dia memakai jaket guru tidak berbeda dengan jaket kulit yang digunakan hanya untuk menutupi dirinya saat dibutuhkan.

Bila kita kaji dengan tenang dan cermat, benarkah masalahnya UANG, GAJI, yang sering didemokan oleh guru-guru masa kini. Saya pikir ngak juga, guru-guru kita di masa lalu [contohnya kakek saya –red] tidak memiliki gaji yang besar, ngak ada yang punya mobil alphard, atau nissan terrano, atau villa dimana-mana. Mereka ikhlas, niatnya bersih, tujuannya putih, harapannya hanya ibadah. Nah itu dia, saya pikir IBADAH key wordnya, ditangan guru lah bangsa ini bisa lurus, bangkit dan berkembang menjadi bangsa yang mandiri, mulia dan kuat. Akhirnya mereka tetap disegani oleh murid-muridnya yang telah menjadi orang di masa kini.

Wallohu’alam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: